-->

Thursday, July 10, 2014

A journey to 25 has started

Today, I am 24 years and a month old. I turned 24 on June 11. So it’s a belated writing on my new age.
I always make a writing on my birthdays, it’s the present that I give to myself. So, today is a nice day to simply contemplate and reflect on how far I have come and how much I have learned over the years.

I was not really excited about my birthday this year, maybe because there’s one of my targets that I havent achieved yet and probably it’s been too obvious what it is. But then with all the wishes, surprises, some of them even came from unexpected people,  the day turned bright again, no use of being such a cry-baby ass.

My 23 was so great. There’s actually only one thing that puts a little disappoinment to it but then succesfully affects almost 50% of my feeling during the year and that is STUPID to let heart control my decisions. And now I promise the new-age me, that it is not going to happen no more. Two broken hearts in a row during a year is enough a lesson for me to stop being so naive. Keep being a good person, but not a naive one.

But hey, rather than focusing on things I’ve lost, now I just wanna focus on the things I’ve achieved. I’ve done many things in my 23. I’ve got my dream job, run my online craft shop very well, make good money, bought things that I always wanted, visited some new places, new friends, new knowledge, new experiences, successfully gained weight to an ideal shape as I targetted,  I’ve got almost everything I wished when I was 22. Looking at them, God would be very angry if I act ungratefully.

One of the presents that I got for my birthday is given by a kid that I often meet at the mosque near my office every Ashr prayer. She gave me some felt brooches that she made by her self and the cutest thing is her letter that says:

“ Kak (older sister) Cihud,  sorry that the belated birthday gift, because it’s hard for me to decide what to give you. I pray that Allah will always give you a good health so that you can come more often to the mosque. By Fathimah Azzahra.”

That is just too cute and makes me speechless!

I can scrapbook my entire life in photos. But the best memories I have cannot be described in pixels or words. They are made up of ideas, laughter, and warm fuzzy feelings that are permanently etched into who I am - events and people who added so much more to me than I could ever give in return. Even memories of mistakes, sadness, and hurt cannot overshadow the good and eventually fade into oblivion as I age and my brain makes room for more good to come.

Now, let’s continue the journey of 24 :)

Friday, July 4, 2014

Thursday, June 12, 2014

Tentang Sebuah Pilihan (when it comes to politics)

Hello, I just turned 24, di umur yang baru ini ada hal yang akan gw lakukan untuk pertama kalinya, yaitu nyoblos pemilu presiden 2014. Pemilu sebelumnya gw masih terlalu hippie mungkin, jadi what the hell aja lah sama siapa pun yang mau jadi presiden, toh uang jajan gw masih sama. Alhamdulillah, sekarang gw udah diberikan hidayah, pilihan untuk tidak memilih bukan lagi jadi pilihan gw.

Seperti yang kita tau, ada empat lelaki saat ini yang lagi jadi trending topic di Indonesia dan mereka bukan boyband, melainkan adalah pasangan capres dan cawapres.

Setiap orang punya cara sendiri-sendiri untuk mencari tahu tentang masing-masing calon, ada yang baca semua artikel, ada yang ikut-ikut temen, ikut-ikutan dosen, dll. Semuanya sah-sah aja. Gw sendiri sengaja menghindarkan diri dari apa yang media tawarkan tentang pasangan-pasangan ini, semua berita gw pass aja, apalagi kalo ada berita-berita yang dishare di timeline, secara di jaman sos-med gini traffic terbesar ya emang dari timeline. Mungkin ada yang menilai cara seperti ini agak ignorant, tapi dengan situasi dimana banyak politisi yang jadi raja media atau pun media yang berpolitik, kayaknya menurut gw, gw lebih bisa percaya sama apa yang gw lihat, rasa dan logika ketimbang apa yang bisa gw baca dari media.

Banyak isu-isu yang gak bertanggung jawab, dibesar-besarkan yang nantinya membuat gw pusing dan kata hati gw jadi gak murni lagi. Terlalu banyak isu yang dikacau-kacauin, sampe biodata si calon aja susah dicari yang valid. Jadi lebih baik gw nunggu apa yang nanti gak bisa direkayasa aja, yaitu siaran langsung semisal debat capres. Karena mimik, sikap dan bahasa seseorang di saat yang terdesak seperti itu gak akan bisa berbohong, gak akan bisa diulang. Hasil review sebaiknya gak usah diliat2 lagi, karena itu jadi ajang pembenaran para tim sukses masing-masing pihak. Misal si calon A terekam melakukan sesuatu lah yang ganjil ato terlihat canggung bla3... nanti berita-berita selanjutnya pasti menyatakan kalo bukan canggung tapi marah lah karena muak melihat lawannya yang dianggap bersandiwara lah, ato kertas doa lah, ini-itu lah... Allahualam aja lah lagi. Well, ini sih sekedar cara gw biar gak gampang mencla-mencle aja.

Secara gw bukan anak ilmu politik, gak terlalu suka dan ngerti politik juga, jadinya tulisan gw ini ya sekedar tulisan ringan aja. Yang fanatik berlebihan mendingan gak usah baca, hehe.  Hal-hal yang terlalu serius juga gak cocok sama design blog gw toh.. hihi..

Perlu diinget juga, sebaiknya dalam memilih kita realistis aja, bukan masalah si ini paling perfect, tapi ini masalah siapa yang menurut lw kejelekannya lebih dikit. Jadi, kalo ada kekurangan atas calon yang dipilih, ya udah sih, akui aja, toh lw bukan tim sukses nya doi kan, yang emang digaji buat jadi front pembela mati-matian, no matter what bullshit you’re selling to people.

Setiap orang punya kebebasan yang sama untuk memihak siapa, tergantung dimana dia melihat adanya harapan, entah di kandidat 1 atau 2. Dan gw pribadi melihat harapan lebih besar di kandidat nomor 1, bukan karena beliau waktu mudanya lebih ganteng ya, gw gak demen Om-om juga keleuus...

Padahal sejauh ini yang gw dapet tentang beliau yang jelek-jeleknya aja, dibanding kandidat satunya lagi, the rising star itu loh... Gw sendiri adalah pengagum Pak Gubernur Jakarta, tapi dulu, sebelum ilfeel (ilang feeling). Gw udah ilfeel jauh sebelum dia nyalon, semenjak gw merasa ganjil sendiri tentang popularitas dan publikasi setiap kegiatannya. Aneh aja, apa mungkin dia broadcast message BBM pers dulu, “Eh cyiin, hari ini gueh ke pasar sayur nih, mau dengerin dese-dese pada curhat. See you there, yah bo’...”

Tambah lagi waktu keputusan beliau untuk mencoba ‘lompat kelas’ ke kursi presiden, wow... super sekali program akselerasi beliau ini, padahal janji-janji buat segambreng warga ibu kota itu apa kabarnya coba. Dan menurut gw alasan “pekerja partai” itu ibarat cowok yang udah ngeyakinin orang tua pacarnya buat nikahin, nafkahin, bertanggung jawab, sehidup-semati lalu tiba-tiba pergi ninggalin si cewek gitu aja dengan alasan, “Maaf, aku mau fokus belajar dulu demi masa depan aku. Ini kemauan orang tua aku.” Satu-satunya respon gw sih Cuma, “Whaddefak...”. (Maklum ya gw cewek, jadi relasi dan analoginya jadi gitcu dehh... hihi)

Banyak juga yang simpatik dengan kandidat no.2 karena pembawaannya yang katanya lebih merakyat dan apa adanya. Hhhmm... menurut gw sih, orang yang ninggalin kewajibannya tanpa bilang maaf demi posisi yang lebih tinggi itu bukan apa adanya tapi ada apanya. Karena keliatan kali deh ambisinya...

Yah, pastinya kedua kandidat emang sama-sama ambisius lah ya, kalo gak ambisius mah ya gak bakalan nyalon. Kalo gw sih, di antara dua orang yang ambisius, gw lebih milih orang yang bisa me-manage ambisinya jangan sampe terlalu obvious. Tambah lagi dengan pasangannya yang datuk kayo rayo itu, aduuuh mak... nampaknya pria semakin tua semakin susah jaim ya... jadi makin susah meng-handle ambisinya.

Sedangkan si kandidat no 1, selalu dibombardir dengan masa lalunya yang dihujat kelam karena selalu dihubung-hubungkan dengan kerusuhan Mei 1998. Kasus Mei 98 itu menurut gw terlalu rumit dan ditutup-tutupi, belum bisa lah dikatakan selesai sampai segampang-gampangnya memberikan predikat ‘dalang’, helllowww... apa gak inget panggung sandiwara politik negeri ini segimana megahnya? Memang gak bisa dikatakan dia terlibat ato tidak terlibat. Dan kalo pun dia terlibat, yang pasti dia gak sendirian. Kenapa jadi lempar fokus sembunyi tangan pisan toh semuanya?

Kalo mau main bawa-bawa isu pelanggaran HAM dan maen asal tunjuk dalang, mbok ya main fair lah, apa kabarnya itu kasus Munir?? Sekarang tersangkanya berdiri di belakang siapa yee...? uhuk, uhuk!

Dan kalo emang beliau ini sebegitu hina nya, lah kenapa dulu digandeng toh, Ibuk You-Know-Who?? Keliatan banget kan gimana si partai terkorup bisa mengolah isu, bahkan orang awam seperti gw aja bisa ngerasain gitu loh. Kalo mau ‘maen’ tu mbok ya yang cantik dikit donk...  Kalo emang pak gubernur DKI itu segitu wow nya, nah kenapa dulu waktu baru-baru pindah dari Solo dianggurin aja dan dikritisi abis-abisan sama Datuk? Oh mungkin aja si Ibuk dan Datuk udah bilang, “Maaf ya dedek, kemaren kakak dan abang Cuma khilaf. Cuss kita bergandengan tangan...”.

Lalu, kalo dibilang kita perlu mengingat kejadian masa lalu, well, emangnya janji ngebenerin ibu kota yang belum kelar itu gak masa lalu juga? Atau masa lalu yang enggak terlalu lalu jadi enak aja gitu dibawa lalu?? Intinya, setiap pria punya masa lalu. Kembali ke wanitanya aja lagi mau menerima masa lalunya apa gak. **loh, kok jadi gini?? --.—“

Balik lagi, dari paparan singkat itu aja udah keliatan banget kan gimana kejam dan kelamnya politik/si. Tambah lagi, setelah nonton siaran debat kemaren yang gw rasa dan gw tangkap dari cara dan manner kandidat no 2, mereka itu terlalu politicians. Nah, kalo mau nyambung-nyambungin dengan perang (**uhuk, Mei 98, uhuk!) ada satu quote keren yang gw inget tapi gw lupa ini dari siapa, intinya “Shouldiers never start wars, it’s the politicians who do.

Emang ada poin-poin kandidat 2 yang gw juga suka dan make sense dan ada poin-poin dari kandidat no urut 1 yang gw juga agak “What??” , tapi seperti yang gw bilang sebelumnya, ini tentang siapa yang menurut kita pribadi kejelekannya lebih dikit dan gw gak lihat itu di kandidat no 2. Apalagi dari debat pertama kemaren, yang paling bikin gw yakin untuk gak memilih mereka adalah gaya bertarungnya; narcissistic, mudah ditebak, ngeye, politicians, gayo lamo lah itu kalo kata urang awak. I mean, as a woman, I personally feel that they don’t compete like men. Bahasa kampanye dan peluru-peluru kampanyenya pun kadang somewhat kayak infotainment, udah jenuh aja gw sama yg beginian.
(*sebagai contoh yang bener-bener jelas bisa dilihat, trademarknya kandidat no urut 2: “I stand on the right side”, dan kalo gw bandingkan dengan trademark no urut satu: “No matter where you stand, we unite as one Indonesia”. Gw pribadi ngerasa kandidat ke 1 lebih punya karakter. Well, bukan berarti kandidat 2 gak punya karakter, setiap orang kan berkarakter, tapi ya... dia sendiri yang nunjukin kalo dia segitu doank karakternya.)
Well, masih ada 3 debat lagi sebelum the election day, let’s see aja apa kedua pasangan bisa lebih convincing untuk dipilih.

Ini sih sekedar pendapat dan pilihan pribadi ya, belum tentu benar, belum tentu salah, awak ko apo lah, hehe... Beda itu wajar, tapi kalo mau ngeye, di blog ato wall sendiri aja deh ya, untuk itulah Mark Zuckerberg kasih wall buat masing-masing, hihi...

Peace, Love and Nomero Uno...
XOXO

**Duh, mulai sekarang pose foto gw harus sadar politik, ganti gaya jari deh gw --.--"